Tak Diizinkan Salat 5 Waktu di Lokasi Kerja, Pria ini Gugat Perusahaan ke Pengadilan

Pria muslim yang akhir tahun 2019 lalu diberhentikan dari pekerjaannya di Indianapolis, Amerika Serikat (AS) setelah memohon kepada pimpinan agar dirinya diizinkan melaksanakan salat lima waktu, melayangkan gugatan kepada dua perusahaan itu atas tuduhan diskriminasi secara agama.

Dikutip Pikiranrakyat-bekasi.com dari Indy Star, E’Lon Brown yang berusia 37 tahun menyebut dua perusahaan bernama Automatic Distributors Corp dan StaffMax telah melakukan diskriminasi dengan cara tak memberikannya izin untuk mengambil jeda di sela-sela jam kerja untuk datang ke masjid menghadiri salat jumat saat itu.

Brown melaporkan kejadian tersebut ke Komisi Ketenagakerjaan Amerika Serikat serta Komisi Hak Sipil di Indiana pada Senin, 22 Juni 2020.

Saat itu Brown bekerja sebagai petugas pengemasan barang untuk Automatic Distributors melalui agen kepegawaian yakni perusahaan StaffMax.

Mendengar laporan Brown kepada perusahaannya, Martin Cain yang merupakan pimpinan StaffMax membantah tuduhan tersebut dan mengatakan pihaknya tidak pernah menyatakan larangan itu kepada Brown.

“Kami sangat mendukung hak-hak ketenagakerjaan yang telah disahkan melalui undang-undang oleh Pemerintah Indianapolis. Kasus tuduhan diskriminasi agama yang dilaporkan Brown juga pertama merupakan yang pertama kalinya bagi kami” tutur Martin Cain.

Baca Juga: Anji Sindir Dangdutan Nakes di Wisma Atlet, dr. Tirta Buka Suara

Awalnya Brown menjelaskan kepada pihak perusahaan bahwa dia harus menghabiskan waktu setidaknya 10 menit setiap kali menjalankan salat serta memohon keringanan satu jam setiap minggu untuk bisa melakukan salat jumat berjemaah di luar lokasi kerjanya yang hanya berjarak lima menit saja.

Brown tak tinggal diam, ia juga melaporkan kejadian yang dialaminya kepada komite keagamaan terkait.

Kemudian salah satu pemuka agama menyebut perusahaan telah melakukan kejahatan yang bersifat rasial.

Namun StaffMax tak terima dengan tuduhan tersebut dan balik mengatakan seharusnya Brown mengatakan permohonan untuk bisa melakukan salat lima waktu saat masih dalam proses wawancara kerja bukan setelah kontraknya dimulai.

“Hal-hal seperti ini seharusnya dikomunikasikan kepada kami saat karyawan belum mulai bekerja,” tutur pihak StCainaffMax.

Brown bersikeras permohonan tersebut sempat diajukannya kepada dua orang koordinator, tetapi mereka menolaknya dengan alasan jika perusahaan memberikan keringanan kepada Brown maka semua karyawan harus mendapat hak yang setara berupa jeda 10 menit di lima waktu saat Brown salat.

Setelah mendapat penolakan, Brown terus berusaha untuk mengajukan keringanan tersebut ke pimpinan namun kembali ditolak hingga akhirnya ia dipecat.

Gugatan yang dilayangkan Brown yakni StaffMax melanggar Undang-Undang Nomor VII Tahun 1964 tentang Hak Sipil atas kasus diskriminasi berdasarkan agama seseorang.

Sumber pikiran rakyat com